KUBU RAYA, SP – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat terus diperkuat melalui operasi lintas satuan. Kali ini, Batalyon Para Komando (Yon Parako) 466 Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) Brajamusti turut mendukung Tim Alfa dengan mengerahkan satu tim Visual Control Post (VCP) untuk membantu pengamatan, pemetaan, sekaligus mengarahkan pergerakan tim menuju titik panas (hotspot).
Dukungan tersebut dilakukan dalam kegiatan surveillance dan pemetaan karhutla serta pencarian jalur terdekat menuju titik panas, khususnya di wilayah Desa Mekarsari, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Tim Alfa sendiri merupakan tim gabungan personel TNI dari tiga matra yang memiliki kemampuan khusus, di antaranya berasal dari Kopassus, Korpasgat, Kostrad, dan Marinir. Dengan kemampuan lintas udara, tim ini dipersiapkan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.
Dalam operasi tersebut, kemampuan paramotor dan drone dimanfaatkan untuk melakukan pengamatan dari udara. Informasi mengenai posisi titik panas dan kondisi medan kemudian menjadi dasar bagi personel di lapangan untuk menentukan jalur paling efektif menuju lokasi.
Sementara itu, Tim VCP dari Yon Parako 466 Pasgat berperan memberikan referensi dan panduan visual dari darat untuk membantu mengarahkan pergerakan paramotor Tim Alfa.
Keberadaan VCP menjadi penting dalam mendukung operasi di medan terbuka maupun wilayah yang memiliki akses terbatas. Dengan panduan visual yang tepat, personel yang bergerak dari udara dapat diarahkan menuju lokasi yang telah dipetakan sehingga tidak perlu melakukan penyisiran secara acak.
Pangkas Waktu Tempuh Menuju Titik Api
Kondisi geografis Kalimantan Barat menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla. Sebagian kebakaran terjadi di kawasan savana, semak belukar, dan padang alang-alang yang relatif mudah terbakar serta memungkinkan api menjalar dengan cepat.
Dalam kondisi seperti itu, waktu menjadi faktor penting. Akses menuju lokasi kebakaran melalui jalur darat terkadang membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan lebih lama apabila medan sulit dilalui. Sementara itu, api terus bergerak mengikuti kondisi vegetasi dan arah angin.
Melalui pemetaan udara, Tim Alfa dapat menentukan lokasi pendaratan yang lebih dekat dengan titik panas. Dengan demikian, personel dapat menghemat waktu dan tenaga untuk mencapai lokasi serta memiliki peluang lebih besar melakukan penanganan sebelum api berkembang menjadi lebih luas.
Pemanfaatan paramotor dan drone juga memungkinkan personel mendapatkan gambaran medan secara lebih cepat. Titik panas yang sebelumnya sulit dijangkau dapat dipetakan, kemudian dikombinasikan dengan informasi kondisi jalur di lapangan.
Konsep tersebut membuat operasi penanganan karhutla tidak lagi hanya mengandalkan pencarian dari darat, tetapi memadukan pengamatan udara, pemetaan, navigasi, dan pergerakan pasukan secara terpadu.
Kemampuan Prajurit untuk Misi Kemanusiaan
Pengerahan kemampuan pasukan lintas udara dalam penanganan karhutla merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang (OMSP), di mana kemampuan dan sumber daya TNI dapat digunakan untuk membantu masyarakat dalam menghadapi bencana maupun kondisi darurat.
Bagi Yon Parako 466 Pasgat Brajamusti, keterlibatan dalam penanganan karhutla menjadi bagian dari pengabdian prajurit kepada masyarakat.
Komandan Batalyon (Danyon) Parako 466 Pasgat, Letnan Kolonel (Letkol) Pas Adim Dwi Prasanda, S.A.P., mengatakan keterlibatan personelnya merupakan bentuk dukungan terhadap upaya bersama dalam menghadapi ancaman karhutla di Kalimantan Barat.
“Kami siap mendukung upaya penanggulangan karhutla dengan kemampuan yang dimiliki, khususnya dalam pengamatan, pemetaan dan pemberian panduan visual di lapangan. Tujuannya adalah membantu Tim Alfa menemukan jalur yang paling efektif menuju titik panas sehingga penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.”
Menurutnya, sinergi antarsatuan menjadi kunci dalam menghadapi karhutla, terutama ketika titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau.
“Medan dan akses menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Karena itu, koordinasi antara tim udara dan personel di darat harus berjalan dengan baik. Informasi yang diperoleh dari udara harus dapat diterjemahkan menjadi pergerakan yang tepat di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, personel Yon Parako 466 Pasgat akan terus mendukung upaya penanganan bencana sesuai tugas dan kemampuan yang dimiliki.
“Kami ingin memastikan kemampuan prajurit tidak hanya digunakan dalam konteks tugas pertahanan, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama ketika terjadi bencana dan kondisi darurat seperti karhutla,” kata Letkol Pas Adim.
Prajurit Hadir Sebelum Api Membesar
Operasi Tim Alfa dan dukungan VCP Yon Parako 466 Pasgat menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kecepatan sekaligus ketepatan.
Mendeteksi titik panas lebih awal, mengetahui kondisi medan, menemukan jalur terdekat, dan mengarahkan personel menuju lokasi menjadi rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.
Api tidak menunggu. Semakin lama titik panas dibiarkan, semakin besar pula potensi api meluas, terutama di tengah kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar.
Karena itu, kiprah prajurit Yon Parako 466 Brajamusti Pasgat dalam mendukung Tim Alfa bukan sekadar operasi pemadaman. Di balik pengamatan dari udara dan panduan dari darat, terdapat upaya untuk memangkas waktu, mempercepat respons, dan mencegah titik api berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Sinergi TNI, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, masyarakat, serta seluruh unsur penanggulangan bencana menjadi kekuatan penting untuk menjaga Kalimantan Barat dari ancaman karhutla. Satu titik api harus segera ditangani sebelum menjadi kobaran yang lebih besar.
(*)